Katabrita – Dewan Perwakilan Raykat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut) mengundang Direksi Bank Sulut Gorontalo (BSG) untuk membahas penyertaan Modal BSG sebagai bank Umum.
Hal tersebut dipertanyakan Banggar, melalui Ketua DPRD Sulut, Fransiscus Andu Silangen saat membuka kegiatan rapat dengar pendapat.
Direktur Utama, Revino Pepah menyambut baik undangan DPRD Sulut, sebelum dirinya membahas tentang penyertaan modal, terlebih dahulu ia menjabarkan Kinerja Keuangan BSG pada Bulan Oktober.
Pepah menyampaikan, memang di tahun 2024 ini kinerja keungan BSG tidak seperti tahun-tahun sebelumnya dikarekan adanya faktor eksternal.
Namun pihaknya mengupayakan di akhir tahun 2024, kinerja keuangan bisa seperti tahun 2023.
Selanjutnya, Pepah mengatakan bahwa sesuai peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa seluruh Bank di Indonesia pada akhir tahun 2024 sudah harus memiliki Modal inti 3 Triliun.
“BSG adalah salah satu bank daerah yang modal intinya belum mencapai 3 Triliun, apabila pada saat yang ditentukan OJK, BSG belum memiliki modal inti 3 Triliun maka akan diturunkan menjadi BPR,” terang Pepah pada Selasa (26/11) 2024 didampingi Direktur Kepatuhan Machmud Turuis dan Direktur Umun Joubert Dondokambey.
Adapun kata Pepah, untuk memenuhi modal inti tersebut ada cara-cara yang dapat dilakukan, salah satunya yaitu dengan setoran pemegang saham.
“Modal inti BSG ini baru 1,3 Triliun, masih membutuhkan 1.7 Triliun lagi, jadi salah satu caranya yaitu setoran pemegang saham,” ujar Pepah.
Namun, Pepah mengatakan mengharapkan setoran modal dari pemegang saham agaknya terlalu sulit.
“Pemegang saham BSG ada 25 yang meliputi dari Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota di Sulut dan Gorontalo, yang menjadikannya sulit karena baru selesai Covid, yang mana anggarannya direfocusing, kemudian ada Pilpres dan Pilkada 2024 dan ini yang mempengaruhi keuangan Pemerintah Daerah,” jelasnya.
Pepah melanjutkan dikarekanan alternatif pertama tidak bisa terpenuhi, maka BSG mengambil alternatif kedua melalui Kelompok Usaha Bank (KUB).
“Jadi di KUB ini bisa bersinergi dengan bank lain yang modal intinya lebih dari 3 Triliun, selanjutnya jika bank sudah bekerja sama, maka bank yang memberikan modal akan menjadi salah satu pemegang saham,” katanya.
Untuk BSG sendiri kata Pepah akan bekerjasama dengan PT. Mega Coorpora yang mana PT Mega Coorpora telah ada di dalam BSG itu sendiri yakni pemegang saham dari tahun 2011.
“Jadi nanti kita tinggal melakukan PKS saja dengan PT Mega Coorpora, karena PT. Mega Coorpora adalah sudah ada di dalam BSG,” ucapnya.
Adapun konsekuensi jika terjadi PKS dengan PT. Mega Coorpora, maka PT. Mega Coorpora secara aturan akan menjadi Pemegang Saham Kendali yang kedua.
Untuk mengakhiri KUB ini maka dengan setoran Pemegang Saham agar BSG bisa kembali seperti saat ini lagi.
(in)
