Besok, Tim PAIR Sulawesi & Peneliti dari Australia Kunjungi Kepulauan Bunaken

Manado1012 Dilihat

MANADO – Tim Peneliti PAIR Sulawesi dan peneliti dari Australia akan mengunjungi Bunaken Kepulauan Kota Manado, Selasa 10 Februari 2026.

Tim PAIR ini sebelumnya sudah meneliti cara penanganan sampah di Kecamatan Bunaken Kepulauan lewat TPS 3R dan pembakaran di incenerator.

(Foto: ist)

Menurut Camat Kecamatan Bunaken Kepulauan Imanuel Mandak SE melalui Kepala seksi (Kasie) Kebersihan Glen Laale tim PAIR sudah melihat secara langsung cara pemilahan dan pengepresan sampah botol plastik yang kemudian dikirim ke DSG.

Sampah yang masih bernilai seperti plastik bekas botol air mineral dibawah ke TPS 3R dibersihkan, dipres dan dikirim ke pengepul di Manado. (Foto: ist)

“Mereka juga meninjau cara pemilahan dari masyarakat khusus sampah plastik.
Dan selain sampah plastik, tim juga menilai cara pengelolahan kompos yg ramah lingkungan (karena berada di daerah wisata),” terang Laale kepada media ini, Senin (08/02/26).

Menurut Laale, tim PAIR mengakui inovasi pengelolahan kompos lewat tong yang dilubangi atas kompos itu menjadi pupuk untuk kesuburan lahan pertanian disekitarnya

“Mereka lagi meneliti Energi terbarukan tanpa emisi untuk Puskesmas di Pulau Bunaken. Sambil melihat pengelolaan Sampah di Pulau Bunaken oleh Pemerintah Kecamatan Bunaken Kepulauan,” terangnya.

Dikatakan Glen, sampah dihimbau pilah dari rumah, sampah sisa dapur, makanan dan daun-daun diolah jadi pakan ternak atau kompos dihalaman rumah/kebun warga.

Sampah yang masih bernilai seperti plastik bekas botol air mineral dibawah ke TPS 3R dibersihkan, dipres dan dikirim ke pengepul di Manado.

“Sampah yang tidak bernilai atau residu dihancurkan di inceneratur dengan suhu di atas 800°C atau dengan perahu dibawah kedaratan dan diteruskan ke TPA Sumompo,” tandasnya.

Perlu diketahui, PAIR merupakan model yang menghubungkan hasil penelitian dengan kebijakan.

Dirancang untuk mendorong kolaborasi antara universitas-universitas terkemuka dan pemerintah dalam menghadapi tantangan keseharian dunia nyata.

Program PAIR Sulawesi menghadirkan sembilan universitas mitra baru di daerah yang akan bekerja sama dengan sepuluh universitas mitra pendiri AIC.

Koalisi ini memperkuat jaringan penelitian di tingkat nasional maupun lintas negara.

Tim peneliti mengkaji isu-isu seputar perubahan iklim dan masyarakat pesisir dengan tiga fokus utama: Mengurangi emisi karbon (Net Zero atau emisi nol bersih), perubahan iklim dan sektor kesehatan masyarakat, serta ekonomi sirkular.

Temuan berbasis bukti yang diperoleh dalam penelitian dapat digunakan pemerintah dalam penyusunan kebijakan terkait perubahan iklim bagi masyarakatnya.

Garis pantai Indonesia merupakan rumah bagi sekitar 70 persen penduduk dengan laut sebagai sumber kehidupan dan penghidupannya.

Karena itulah masyarakat pesisir membutuhkan dukungan untuk dapat membangun dan mengelola sumber daya kelautannya secara lestari berkelanjutan.

Diperlukan ilmu, wawasan dan pengetahuan untuk membangun solusi karena masyarakat pesisir terutama kelompok rentan seperti kaum perempuan, anak-anak, kaum muda, penyandang disabilitas, dan warga lanjut usia menjadi yang paling rentan oleh perubahan iklim.

Model kemitraan ini melibatkan peneliti muda dan madya untuk berkontribusi pada isu-isu berdampak besar dengan panduan peneliti senior.

Hal ini menunjukkan kontribusi PAIR Sulawesi terhadap prioritas nasional Indonesia sekaligus dalam pembangunan sumber daya akademik di daerah. (*)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Kata Brita di saluran WHATSAPP