Dari Bitung, Energi Kasih Pertamina Menyalakan Gerakan Kesetaraan
Katabrita – Di Bitung, kota pesisir yang dikenal dengan nama Kota Cakalang, siang itu terasa begitu terik, panas dan gerah, juga ada ada rasa bosan yang menghampiri.
Cuaca panas saat itu membuat waktu berjalan terasa lebih lambat di sebuah kios fotokopi kecil di pinggir jalan.
Donna Chira Ginting, wanita ekspresif yang sedang melihat seorang anak, tersenyum tanpa suara.
Tersadarlah ia, ternyata seorang anak itu berkomunikasi bukan dengan kata-kata, namun dengan bahasa isyarat.
Dari sebuah senyum tanpa kata itulah, harapan muncul, tumbuh dalam keheningan.
Pertemuan pertamanya dengan teman tuli di Kota Bitung terjadi pada tahun 2017, sebelumnya Chira juga sudah memiliki teman tuli di Jakarta.
Sejak pertemuannya dengan sahabat barunya itu, Chira mulai sering berinteraksi dengan teman-teman tuli di Bitung.
Ia kemudian bersama dengan teman teman tuli lainnya bertemu di kegiatan Car Free Day (CFD), disitulah ia melihat betapa banyak teman tuli berkumpul, tersenyum dan tertawa, bercerita namun dengan bahasa yang terbatas.
Sungguh hal itu ternyata mengusik ibu dari satu orang anak ini, pikirnya begitu besar kesenjangan antara teman tuli di Bitung dengan yang ada di Jakarta.
“Banyak dari mereka belum punya akses informasi, belum tahu cara mengembangkan diri, bahkan kesulitan memahami hal-hal sederhana di sekitar mereka,” kenang Chira pada Selasa (28/10).
Sepulang dari CFD, ia merenung lama. Pertanyaan itu terus berputar dalam pikirannya: bagaimana mereka bisa setara?
Pertemuan intens pun terjalin dan terbentuklah KALEB di tahun 2018.

Apa itu KALEB?
KALEB lahir dari sebuah harapan dan keyakinan, membentuk komunitas yang berdampak, namun tentunya agar teman tuli bisa bersosialisasi dengan masyarakat luas dengan kepercayaan diri dan penerimaan.
Nama KALEB diambil dari kisah dalam Alkitab di Perjanjian Lama. Dari perjalanan hidup Kaleb bin Yefune, dikatakan ia adalah orang yang berhasil oleh imannya.
Dari situlah nama KALEB diambil, Chira yakin Tuhan akan merestui hingga akhir.
Dari situ, Chira dan teman tuli mulai kegiatan dengan bermodalkan gajinya sebagai guru seni dan prakarya, sehingga masyarakat kota Bitung perlahan mulai mengenal KALEB.
Dengan kehadiran KALEB, teman-teman tuli sangat senang, karena menjadi wadah belajar dan berkumpul.
KALEB memberikan ruang aman dan ramah sehingga mereka bebas berkembang dan menangkap informasi yang tepat.
Ochen, teman tuli Bitung pertama yang saat itu ditemui, menjadi orang yang antusias mengajak teman-teman tuli bergabung.
Dengan adanya beberapa anggota, segala ungkapan mereka menjadi masukan positif sehingga dijadikan tubuh program untuk KALEB.
“Kami yakin KALEB menjadi wadah yang memberikan perubahan terhadap teman-teman,” ucap Chira dengan penuh optimisme.
Dengan adanya KALEB, teman-teman tuli mendapatkan akses yang layak juga dukungan fasilitas dan akomodasi untuk meningkatkan wawasan dan keamanan.
Perjuangan yang dimulai dari langkah kecil itu kini telah menarik banyak perhatian. Salah satunya datang dari Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sulawesi Utara, Chenny Wahani, yang menilai gerakan seperti KALEB adalah bentuk nyata inklusi sosial di tingkat komunitas.
Chenny berharap langkah-langkah baik yang dilakukan lembaga dan perusahaan, termasuk melalui program CSR, tidak berhenti pada satu kelompok disabilitas saja.
“Harapannya, CSR Pertamina tidak hanya melihat dari satu ragam disabilitas, tapi merangkul semua ragam disabilitas. Kami siap,” ujarnya.
Dukungan itu sejalan dengan semangat Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal (IT) Bitung, yang melihat bahwa energi sejati bukan hanya soal bahan bakar, tetapi tentang menyalakan kehidupan.
Pertamina Membawa Perubahan
Melalui berbagai program tanggung jawab sosial, Pertamina hadir menyokong gerakan-gerakan masyarakat yang membawa perubahan, seperti KALEB.
Berbagai inisiatif sosial terus dijalankan, di antaranya:
- Program lingkungan “Kopi Jadi Bibit, Mangrove Jadi Bukti”, mengubah limbah kopi menjadi bibit tanaman sekaligus menjaga pesisir Bitung.
- Program PADU (Pertamina Berdampak untuk Disabilitas Unggul), memberi peluang wirausaha dan pelatihan bagi penyandang disabilitas.
- Pelatihan literasi keuangan dan keterampilan kerja bagi masyarakat pesisir serta kelompok rentan.
- Kegiatan edukasi lingkungan dan keselamatan kerja di sekolah-sekolah sekitar wilayah operasional.

Rangkaian kegiatan itu menjadi bukti bahwa Pertamina bukan hanya mengalirkan energi untuk kendaraan, tapi juga energi sosial bagi masyarakat.
Tak heran jika Pertamina Patra Niaga IT Bitung beberapa kali menerima penghargaan atas komitmennya terhadap lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
“Kami percaya bahwa keberlanjutan hanya bisa tercapai bila semua pihak terlibat. Pertamina ingin memastikan tidak ada yang tertinggal, termasuk teman-teman disabilitas,” ujar Area Manager Communication, Relations, dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Fahrougi Andriani Sumampouw waktu itu.
Kini, ketika Chira dan teman-temannya di KALEB melihat kembali perjalanan mereka, ada rasa haru tersendiri.
Bahwa di balik setiap senyum teman tuli, ada energi yang menyala.
Energi itu datang dari kasih, dari kepedulian, dari sinergi dan dari Pertamina, yang menyalakan harapan dalam diam, membiarkan kebaikan tumbuh tanpa banyak kata, tapi dengan tindakan yang nyata.
(Indah)







