Katabrita – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulutgomalut mencatat kinerja industri jasa keuangan di Sulawesi Utara hingga Juni 2025 menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil dan sehat.
Hasil pengawasan OJK itu disampaikan Kepala OJK Sulutgomalut, Robert Sianipar saat menggelar Media Update bersama wartawan dan lembaga keuangan di Sulawesi Utara.
“Kondisi lembaga jasa keuangan se-Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku Utara dalam kondisi yang stabil, bertumbuh dan mempunyai ketahanan yang cukup,” ujar Robert, Selasa (16/9) 2025.
Menurutnya, indikator yang mempengaruhi pertumbuhan lembaga keuangan terlihat dari peningkatan aset, Dana Pihak Ketiga (DPK), dan kredit. “Masing-masing tumbuh 5,08 persen, 6,22 persen, dan 4,15 persen,” jelas Robert, didampingi jajaran OJK serta perwakilan lembaga jasa keuangan lainnya.
Ia menambahkan, ketahanan industri juga tercermin dari tingkat risiko kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang masih terkendali. “Risiko kredit relatif terjaga, berada di angka 2,55 persen. Jadi masih dalam batas aman, jauh di bawah 5 persen,” katanya.
Secara lebih rinci, OJK mencatat total aset perbankan di Sulut mencapai Rp102,93 triliun, dengan simpanan masyarakat (DPK) sebesar Rp34,30 triliun. Sementara itu, penyaluran kredit tembus Rp54,18 triliun. Meski rasio penyaluran kredit terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio) cukup tinggi di angka 157,96 persen, kualitas kredit masih terjaga dengan baik.
Di sektor pasar modal, jumlah investor di Sulawesi Utara terus meningkat hingga 123 ribu orang, bagian dari total 208 ribu investor di wilayah SulutGoMalut. Nilai transaksi saham masyarakat Sulut mencapai Rp655 miliar, dengan kepemilikan saham bernilai lebih dari Rp1,3 triliun. Bahkan tiga perusahaan asal Sulut—HBAT, BEER, dan BSLT—telah melantai di Bursa Efek Indonesia.
Industri keuangan non-bank juga tumbuh positif. Perusahaan pembiayaan di Sulut menyalurkan pembiayaan Rp7,9 triliun dengan pertumbuhan sekitar 5 persen. Fintech lending bahkan naik pesat hingga 54 persen, dengan total pinjaman mencapai Rp1,6 triliun serta tingkat gagal bayar yang relatif rendah di bawah rata-rata nasional.
Namun demikian, sektor asuransi masih menghadapi tantangan. Premi asuransi umum di wilayah ini turun tipis, tetapi klaim justru melonjak lebih dari 400 persen. Pada asuransi jiwa, klaim juga naik tajam hingga 180 persen.
Dengan capaian ini, OJK menegaskan bahwa kondisi jasa keuangan di Sulut masih aman dan tumbuh positif. Meski ada tantangan berupa tingginya rasio penyaluran kredit dan lonjakan klaim asuransi, sektor keuangan tetap menunjukkan daya tahan kuat serta terus memberi kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
(*/in)






