Katabrita – Aksi demonstrasi gabungan mahasiswa di depan Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Rabu (17/6), berakhir ricuh setelah terjadi ketegangan antara massa aksi dan aparat pengamanan. Insiden tersebut turut memicu kerusakan fasilitas di area kantor dewan.
Wakil Ketua DPRD Sulut, Royke Anter, menyampaikan rasa prihatin dan penyesalannya atas kejadian yang menurutnya tidak seharusnya terjadi dalam ruang penyampaian aspirasi publik.
Ia menegaskan bahwa DPRD Sulut sejak awal telah menyiapkan diri untuk menerima perwakilan mahasiswa guna mendengarkan langsung tuntutan yang disampaikan.
“Kami pada dasarnya siap menerima dan mendengarkan aspirasi adik-adik mahasiswa. Namun sangat disayangkan, proses penyampaian justru tidak berjalan tertib,” kata Royke Anter kepada wartawan.
Dalam kesempatan tersebut, Royke bersama sejumlah anggota DPRD Sulut, yakni Hillary Tuwo dan Jeane Laluyan, serta Sekretaris DPRD Niklas Silangen, telah berada di lokasi untuk menyambut massa aksi.
Namun, hasil koordinasi dengan pihak keamanan memutuskan bahwa dialog dilakukan di halaman depan gedung DPRD, bukan di dalam ruang rapat. Keputusan itu diambil sebagai langkah antisipasi berdasarkan pengalaman sebelumnya.
“Berdasarkan SOP dan pertimbangan keamanan, kami sepakati penerimaan dilakukan di halaman depan. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.
Ketegangan kemudian muncul saat sebagian massa aksi menolak kebijakan tersebut, hingga terjadi aksi saling dorong yang berujung pada perusakan pagar kantor DPRD Sulut.
Meski demikian, Royke menegaskan bahwa pintu lembaga legislatif tetap terbuka bagi masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasi, selama dilakukan dengan cara yang tertib dan sesuai prosedur.
“Silakan sampaikan aspirasi melalui surat resmi. Kami akan menerima perwakilan dengan baik dan menindaklanjuti sesuai kewenangan, baik di tingkat daerah maupun pusat,” jelasnya.
Ia juga mengimbau agar mahasiswa dapat lebih mengedepankan cara-cara damai dalam menyampaikan pendapat, mengingat mereka merupakan bagian dari kaum intelektual dan calon pemimpin masa depan.
(*/in)
