Katabrita – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara (BI Sulut) menggelar halalbihalal pasca Idul Fitri 1446 H yang dirangkaikan dengan pemaparan outlook perekonomian Sulut.
Acara ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus forum diskusi yang melibatkan pemerintah daerah, kementerian/lembaga, asosiasi, akademisi, pelaku usaha, dan media, dengan tema “Menjaga Optimisme Menuju Sulawesi Utara Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan.”
Kepala Perwakilan BI Sulut, Andry Prasmuko, dalam kesempatan itu menyampaikan perkembangan ekonomi regional dan nasional serta prospek pertumbuhan Sulut pada 2025 dan 2026. Ia menekankan pentingnya menjaga momentum pertumbuhan agar sejalan dengan arah pembangunan daerah.
“Pertumbuhan ekonomi Sulut tahun 2024 mencapai 5,39 persen, lebih tinggi dibandingkan nasional 5,03 persen. Kinerja ini ditopang tingginya permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor,” ujar Andry.
Menurutnya, Sulut masih berpotensi melanjutkan tren positif pada 2025, meski dihadapkan pada sejumlah tantangan global. Kinerja investasi daerah diperkirakan tetap solid dengan dukungan Kredit Modal Kerja dan Kredit Investasi perbankan, serta ekspor komoditas unggulan seperti perikanan, pertanian, dan transportasi.
Dari sisi harga, BI mencatat inflasi Sulut pada Maret 2025 meningkat akibat penyesuaian tarif listrik serta naiknya harga cabai rawit dan tomat. Kendati demikian, inflasi tahunan diproyeksikan tetap terkendali di kisaran 2,5 ± 1 persen, sejalan dengan target nasional. “Penguatan ekosistem pangan melalui Program Swasembada Pangan dan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) menjadi kunci menjaga daya beli masyarakat,” jelasnya.
Acara ini juga menghadirkan pandangan berbagai pihak, antara lain Kepala Kanwil DJBC Sulawesi Bagian Utara Erwin Situmorang, Kepala Bappeda Sulut Elvira Katuuk, serta akademisi Universitas Negeri Manado Nikolas Fajar. Para narasumber menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat struktur ekonomi Sulut, termasuk percepatan investasi baik Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)
Deputi Kepala Perwakilan BI Sulut, Renold Asri, menambahkan bahwa optimalisasi infrastruktur strategis menjadi salah satu pendorong utama daya saing daerah. “Sulut memiliki keunggulan berupa pelabuhan dan bandar udara berskala internasional serta Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Bitung dan Likupang. Potensi ini harus dioptimalkan untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Melalui forum ini, BI Sulut berharap seluruh pemangku kepentingan dapat terus menjaga optimisme dan bersinergi dalam mewujudkan Sulawesi Utara yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan.
(*/in)







