Kemasan Menarik Pasti Dilirik, UMKM Badonci Ini Siap Naik Kelas, Go Global

Ekonomi, Ekonomi, Sulut1876 Dilihat

Katabrita – “Aku pengen cari oleh-oleh yang kekinian-kekinian gitu, di Manado ada kah? ,” tanya salah satu teman yang sedang berlibur di Kota Manado ini.

Sebelum dirinya meninggalkan Kota Tinutuan, wanita asal Balikpapan ini ingin memberikan buah tangan untuk para sahabatnya di Kota Minyak.

“Aku mau cari oleh-oleh snack tapi yang bagus ya, ngga mau yang cuman biasa-biasa,” celetuk Ria.

Kalimat-kalimat itu sering terdengar dari para sahabat yang sedang melancong ke Kota Tinutuan ini.

Salah satunya seperti yang diinginkan Ria, dia bilang tampilan itu penting, selain rasa, tampilan sebuah produk untuk dijadikan buah tangan itu menambah rasa percaya diri dari di pemberi itu sendiri.

“Biar gak malu-maluin lah,” katanya sambil tertawa.

Nah, di Kota Manado ada salah satu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara yang tampilan visualnya makin menarik, bahkan dari designnya terlihat profesional seperti brand-brand snack ternama di Indonesia.

Sebut saja dia Tuna Chip dari Badonci, snack yang terbuat dari bahan dasar Ikan Tuna ini memiliki tampilan yang sangat kekinian.

Apalagi ditambah dengan design yang menampilkan budaya-budaya lokal yang ada di Indonesia, tentunya ini yang membuat kemasan snack dari Badonci jadi terlihat beda dari produk-produk UMKM lainnya.

“Badonci punya packaging dengan tampilan budaya adat Minahasa, Bali, Minang dan Bandung,” jelas Owner Badonci, Mila Amelia.

Dari segi rasa, selain ada original, Badonci Tuna Chip juga punya rasa Rendang, Seblak, Sambal Matah, Ramen, Tomyam dan Kimci,” urai Mila saat ditemui di tempat produksi Badonci beberapa waktu yang lalu, tepatnya di Kelurahan Winangun, Manado.

Tuna Chips dari Badonci ini, menurut Mila, yang juga adalah seorang Ibu Rumah Tangga, dia bilang cemilan dari ikan Tuna memang belum lama di Launching.

“Baru dua bulan dilaunching, tapi sudah diikutkan pameran” katanya dengan rasa bangga.

Milapun bercerita dibalik dicetuskannya snack dari ikan tuna ini, ternyata berawal dari pemikiran karena daerah Sulawesi Utara adalah salah satu daerah penghasil ikan tuna terbesar di Indonesia.

Dengan perairan yang kaya akan keanekaragaman hayati laut, provinsi ini menjadi rumah bagi berbagai jenis tuna, termasuk tuna sirip biru, tuna sirip kuning, dan tuna sirip besar.

Nah, menurut data Badan Pusat Statistik Sulut tahun 2021, Sulut menghasilkan 56.206 ton ikan tuna.

Terutama, kata dia Ikan Tuna juga sudah jadi bahan ekspor.

Dari situlah kemudian, dirinya memberanikan diri keluar dari zona nyamannya lagi.

Karena menurut Ibu dari 3 orang anak ini, seorang pengusaha harus punya mental yang berani.

Singkat cerita kata dia, buah manis dapat dirasakannya, setiap hari Mila bisa produksi hingga ribuan pieces.

Selain di drop ke toko oleh-oleh yang ada di Sulut, menurut nya BI juga memesan untuk dijadikan hampers acara-acara besar.

“Acaranya Bank Indonesia tidak main-main, acara besar jadi saya kira produk-produk saya juga jadi produk unggulan kalau sampai dibuatkan hampers,” katanya.

Mengenai kemasan, Mila membeberkan bahwa, kemasan saat ini masih akan diupgrade lagi, yakni dengan kualitas lebih baik dengan menggunakan kemasan aluminium foil.

Kata dia kemasan yang saat ini sementara di pesan, produk yang ada di dalam kemasan bisa lebih tahan lama, sehingga bisa diterima oleh retail-retail besar.

Dibalik kemasan produk-produk dari Badonci Chip yang makin epic ini, peningkatan diri maupun peningkatan kualitas usaha tak lepas dari keikutsertaannya dalam Wirausaha Bank Indonesia (WUBI).

“Tidak gampang menjadi pengusaha,” celetuknya sembari tertawa.

Dia bercerita, kilas balik, seandainya saja dia tidak ikut serta mendaftarkan diri menjadi anggota WUBI, mungkin kapasitas dirinya tak seperti sekarang ini.

“Kami digodok selama satu tahun, tapi tidak selesai sampai di wisuda saja, justru itu masih awal, masih banyak PR lagi,” katanya memotivasi.

Menurutnya apa yang sudah diberikan Bank Indonesia kepada UMKM yang terjaring di WUBI ini sangat berkontribusi terhadap majunya UMKM, terutama di Sulut.

“Tentunya bukan UMKM yang hari ini ada besok sudah hilang ya. Ini bicara tentang mental pengusaha,” Katanya serius sembari mengecek tuna chips yang baru saja dia produksi.

“Harus Konsisten,” tambahnya lagi.

Di WUBI itu, Mila dan kawan-kawan diberikan pelatihan mulai dari produk, manajemen sampai diberikan tantangan.

“Kami juga selalu diberikan challenge,” serunya.

Jadi, katanya pelatihan di WUBI sangatlah profesional.

Mila sendiri adalah salah satu Anggota WUBI pada tahun 2019 serta memulai usaha pertamanya, frozen food pada tahun 2018.

Jika dilihat pada buku Katalog Badonci, selain Tuna Chips, produk-produk Badonci di pasaran ini ada Coconut Chip, Goroho Chip, Sambal Roa, Cakalang Fufu Suir, Sambal Cakalang, Cakalang Garo Rica.

Selain bisa didapatkan di toko oleh-oleh di Kota Manado, varian-varian Badonci Chip sudah Go Digital dan bisa ditemukan di Shopee, IG dan Facebook dengan nama Badonci.idn

Bahu-membahu memberi Dukungan

Aston Manado Hotel dengan bangga mendukung produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal melalui kerjasama strategis.

Inisiatif ini bertujuan untuk membantu UMKM dalam memasarkan dan menjual produk mereka kepada tamu hotel, memberikan akses yang lebih luas dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal.

Sebagai bagian dari komitmen Manajemen untuk mendukung perekonomian lokal, Aston Manado Hotel telah menyediakan ruang khusus di area hotel untuk menampilkan dan menjual berbagai produk UMKM.

Produk-produk yang ditawarkan meliputi kerajinan tangan, makanan dan minuman khas daerah, serta produk-produk inovatif lainnya yang mencerminkan kekayaan budaya dan kreativitas masyarakat lokal.

“Kami sangat senang dapat berkontribusi langsung dalam mendukung UMKM lokal. Kerjasama ini bukan hanya membantu UMKM dalam memasarkan produk mereka, tetapi juga memberikan tamu kami pengalaman unik untuk mengenal dan membeli produk lokal berkualitas tinggi,” kata Director of Sales Aston Manado Hotel.

Menurutnya, ini adalah bagian dari komitmen hotel untuk mempromosikan keberlanjutan dan tanggung jawab sosial dalam operasi bisnis.

“Para tamu Aston Manado Hotel dapat menikmati produk UMKM lokal di beberapa lokasi strategis di dalam hotel, termasuk lobi, dan di restoran, ” tambahnya.

Aston Manado Hotel mengundang semua tamu untuk mendukung inisiatif ini dengan membeli produk UMKM lokal selama mereka menginap.

“Dengan membeli produk UMKM, tamu tidak hanya mendapatkan produk berkualitas tetapi juga berkontribusi langsung pada perekonomian lokal,” pungkas Ria.

Sinergi BI Sulut-Pemerintah Dukung Pertumbuhan Ekonomi, Melalui Urban Economy Digifest

Urban Economy Digifest 2024 yang merupakan agenda tahunan diselenggarakan untuk menjadi katalis dalam mendorong pengembangan UMKM dan ekonomi digital yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara (Sulut)

Tahun 2024 ini, Urban Economy Digifest mengangkat tema “Sinergi Memperkuat Ekonomi dan Keuangan Digital untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan.

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut, Andry Prasmuko, Urban Economy Festival (Urbanfest) merupakan strategic flagship event tahunan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara yang diselenggarakan sejak tahun 2019.

“Tujuan utama kegiatan ini adalah sebagai wadah bagi UMKM berbasis sektor dan komoditas unggulan di Sulawesi Utara dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya melalui serangkaian program pelatihan dan pameran, ” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut, Andry Prasmuko.

Prasmuko menuturkan, Pada tahun 2024, kegiatan ini dirancang lebih spesial dengan memasukkan sentuhan digitalisasi dalam pengembangan UMKM.

“Sejalan dengan perkembangan teknologi yang pesat, ekonomi digital menjadi salah satu pilar penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Re-branding event menjadi Urban Economy Digifest membawa semangat baru dalam mendukung penguatan UMKM Sulawesi Utara agar dapat Naik Kelas: Go Digital dan Go Ekspor (Go Global),” jelas Prasmuko.

Dirinya pun menjelaskan bahwa sepanjang Juni 2024, Bank Indonesia bersinergi dengan Pemerintah Daerah, OJK, Perbankan, UMKM, stakeholders terkait lainnya dalam mendukung penyelenggaraan serangkaian kegiatan Urban Economy Digifest 2024 yaitu Pameran UMKM, Pelatihan Warsa, Onboarding UMKM Bisnis Matching Pembiayaan, Business Matching Kemitraan, Sosialisasi Legalitas UMKM, Penyusunan E-book Diving Spot se-Sulut, Virtual Tour Manado, Dukungan kepada Desa Wisata, Sosialisasi Perkembangan Sistem Pembayaran.

Prasmuko bilang, Bank Indonesia juga terus mendorong pengembangan UMKM dan ekonomi digital melalui: peningkatan literasi keuangan inklusif dan ekonomi keuangan digital, pelatihan dan pendampingan bagi Wirausaha Unggulan Sulawesi Utara (WANUA), penyediaan database UMKM yang siap dibiayai dalam Bank Indonesia Sistem Aplikasi Input Database (BISAID), peningkatan literasi pencatatan keuangan UMKM menggunakan aplikasi Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK), sosialisasi perluasan QRIS dan BI-FAST sebagai alternatif kanal pembayaran digital yang memudahkan UMKM dan masyarakat, penguatan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) melalui implementasi Kartu Kredit Pemerintah Domestik (KKPD), serta perluasan dan percepatan digitalisasi daerah.

“Dukungan KPw BI Sulut dalam mendorong pengembangan ekonomi digital tentu tidak dapat berjalan optimal tanpa bantuan, dukungan dan kerjasama yang baik dari pemerintah daerah, dinas/instansi terkait, akademisi, pelaku usaha, masyarakat dan stakeholders terkait lainnya, diharapkan kegiatan Urban Economy Digifest 2024 dapat menjadi momentum untuk semakin memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam menciptakan ekosistem digital yang inklusif, inovatif dan berdaya saing, ” harap Prasmuko.

UMKM Naik Kelas dan Dukungan Pemerintah

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) saat ini digaung-gaungkan untuk menjadi UMKM Naik Kelas.

Program naik kelas ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas UMKM itu sendiri, yakni berdasarkan kenaikan omset dan aset UMKM.

Salah satu Akdemisi Universitas Sam Ratulangi, Magdalena Wullur melihat UMKM harusnya juga bisa menjangkau semua kelas.

“UMKM itu sebenarnya dia harus bisa menjangkau Semua Kelas, baik itu kelas bawah, menengah hingga kelas atas,” ujar Magdalena Wullur.

Karena menurutnya, esensinya adalah Profit.

Lena, panggilan akrab wanita cantik ini, mengemukakan bahwa bantuan-bantuan yang diberikan Pemerintah saat ini sudah sangat baik.

“Terlebih Bank Indonesia Sulut, dengan hadirnya WUBI yang telah banyak mencetuskan UMKM-UMKM yang berkualitas,” puji Lena.

Lalu adanya Urban Economy Digifest yang telah mendorong UMKM seperti diadakannya pameran UMKM, Pelatihan,business matching pembiayaan UMKM bekerja sama dengan OJK dan perbankan, business matching kemitraan UMKM bekerja sama dengan perusahaan ritel dan masih banyak lagi.

Namun kata dia, itu saja belum cukup untuk membuat UMKM yang berkelanjutan.

“UMKM itu bukan urusan satu atau dua dinas saja, tapi semua Dinas di Pemerintahan harus bekerjasama ,” serunya.

Lena pun memberikan contoh, bagaimana agar UMKM bisa bertahan, Dinas Kesehatan, Dinas P3A serta Dinas lainnya harus ikut berkontribusi.

“Misalnya ya, bagaimana Dinas Kesehatan bisa menjamin kesehatan pelaku UMKM itu, Dinas Perempuan dan Anak bisa membantu istri/anak dari pelaku usaha agar tidak kena KDRT, dan masih banyak lagi” kata Lena.

Kemudian Lena menyinggung tentang perizinan untuk UMKM ini agar dipermudah.

“Jangan sampai ijin pun susah didapat, apalagi jika harus memberikan imbalan agar ijin bisa keluar” tukasnya.

Lena mengemukakan tentang pentingnya memiliki Kepala Daerah yang juga mengerti tentang UMKM.

“Jadi Pemimpin harus cerdas, kita harus mencontoh negara-negara maju, seperti Cina misalnya yang memberikan keleluasaan kepada pelaku usaha untuk menjalankan usahanya tanpa intervensi,” imbuhnya

Kehadiran UMKM sangat berarti karena menggerakan Pertumbuhan Ekonomi.

Sementara itu, Anggota DPRD Sulut, Inggried Sondakh menilai UMKM yang bisa bertahan adalah UMKM yang harus mampu menghadapi persaingan.

“Apalagi di era gempuran Digitalisasi ini,” kata Anggota DPRD Sulawesi Utara yang bernaung di Komisi II.

Juga katanya, pelaku usaha harus punya mental Baja.

“Jangan berusaha itu timbul tenggelam, hari ini ada, besok tidak,” singgungnya.

“Mutu harus dijaga, karena Pemerintah juga akan memberikan bantuan kepada pelaku usaha yang serius,” tambahnya.

Jika berbicara dalam politik anggaran, dia mendorong agar Pemerintah dapat lebih memperhatikan keberadaan UMKM ini.

“Misalnya dengan membangun Rumah Kemasan, agar membantu para pelaku usaha membuat kemasan yang bagus namun terjangkau,” pungkasnya.

 

(in)

 

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Kata Brita di saluran WHATSAPP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *