Katabrita – Pada tahun 2010, Suriana, seorang ibu rumah tangga, baru pertama kalinya menginjakkan kaki di Kota Tinutuan, Manado, Sulawesi Utara, mengikuti sang suami yang ditugaskan bekerja.
Tak pelak, hari-hari yang ia jalani bersama keluarga kecilnya dihampiri rasa bosan. Dulunya, Suriana yang akrab disapa Yana adalah seorang wanita karier yang terbiasa sibuk dengan pekerjaan kantor.
“Ada rasa ingin berbuat sesuatu, tapi waktu itu masih terkendala karena anak-anak masih kecil,” kenangnya.
Hingga pada 2013, keinginannya makin kuat. Dengan peralatan seadanya dan modal hanya Rp150.000, Yana nekat memulai usaha rumahan. Berawal dari pemberian ikan roa kering dari seorang kerabat, muncullah ide untuk mengolahnya.
Penolakan Tak Patahkan Semangat
Berbekal hobi memasak, Yana cepat mempelajari cara membuat sambal roa khas Manado hingga rasanya digemari banyak orang.
Sebelumnya, memang ia sempat mencoba membuka warung makan khas Minahasa. Dari pengalaman itulah Yana belajar banyak soal masakan daerah Manado dan Minahasa.
Dengan kemasan sederhana, sambal roa produksinya mulai dititipkan ke toko-toko dan swalayan. Namun, tak jarang ia ditolak.
“Katanya sudah banyak yang bikin, tapi saya tidak berhenti di situ. Terus coba, karena masih penasaran,” katanya.
Perlahan usahanya membuahkan hasil: produk mulai diterima toko retail.

Naik Kelas Lewat WUBI
Tahun 2020, UD Lyvia Nusa Boga, usaha milik Yana, terpilih mengikuti program Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI). Program ini merupakan wadah peningkatan kapasitas wirausaha.
“Perubahan berarti yakni mindset, cara memperlakukan produk, menentukan target pasar, hingga perencanaan agar bisa naik kelas,” jelasnya.
Yana bersyukur bisa lolos WUBI, mengingat tak semua UMKM bisa masuk. Ia juga merasakan manfaat lain karena setiap ada event BI, produk binaan dibeli dan dipromosikan.
“Omzet jadi naik, itu sangat membantu kami para UMKM,” katanya sembari mengecek hasil abon tuna yang sementara diproduksi karyawannya.
Produk Berkembang, Jejak Menginspirasi
Kini, produk Lyvia Nusa Boga semakin berkembang dengan 20 varian, mulai dari olahan ikan, berbagai kue kering hingga kopi.
Hal yang sama juga dirasakan Mila Amelia salah satu UMKM yang terbilang sukses karena sudah wara wiri mengikuti pameran-pameran besar hingga di tingkat internasional.
Founder PT. Badonci Kawanua Jaya ini dikenal juga dengan berbagai olahan keripiknya yang berbahan dasar ikan.
“Kami diberikan cara pandang yang berbeda tentang bagaimana menjadi seorang pengusaha: tidak hanya hari ini ada, besok hilang. Harus konsisten,” tegasnya.

NSIF 2025 Buka Pintu Ekspor
Gelaran North Sulawesi Investment Forum (NSIF) 2025 memberi peluang baru bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Sulawesi Utara.
Forum itu digelar di Manado, Jumat (8/8) 2025, Yana bersama empat UMKM binaan BI lainnya menandatangani kesepakatan dagang dengan buyer asal Tiongkok di ajang North Sulawesi Investment Forum (NSIF).
Kelima UMKM itu adalah UD Lyvia Nusa Boga, PT Badonci Kawanua Jaya, PT Ramantha Kawanua Indonesia, PT Ukacraft Sulut Anugerah, dan PT Wale Gonofu Minaesa. Mereka membawa produk khas daerah, mulai dari makanan olahan, kerajinan, hingga komoditas unggulan, untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulut dalam sambutannya menegaskan, UMKM harus ikut menjadi bagian dari arus investasi yang kini terus didorong pemerintah dan BI. “Investasi adalah motor pertumbuhan, tapi UMKM adalah tulang punggung ekonomi. Keduanya harus berjalan bersama agar manfaatnya terasa luas,” ujarnya.
BI juga berupaya memperkuat kapasitas pemerintah daerah dan pelaku usaha. Tujuannya, agar realisasi investasi bisa lebih cepat dan UMKM siap naik kelas.
Dengan rangkaian kegiatan ini, NSIF 2025 menegaskan satu pesan penting: UMKM Sulut tidak boleh tertinggal dalam agenda besar investasi. Harapannya, semakin banyak produk lokal menembus pasar internasional, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif

229 UMKM Binaan BI
Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) memiliki peran yang besar terhadap perekonomian di Sulawesi Utara. Menariknya, hingga tahun 2025, Bank Indonesia Perwakilan Sulut telah membina 229 UMKM, terdiri atas 146 Wirausaha Unggulan Sulut (WANUA) dan 83 Petani Unggulan Sulut (PATUA).
Dari jumlah tersebut, sektor makanan dan minuman olahan mendominasi, disusul kerajinan, fashion/ready to wear, kopi, serta lainnya. Sementara kelompok PATUA banyak bergerak di komoditas pangan strategis: cabai, tomat, bawang merah, padi, jagung, dan enam komoditas lain yang tersebar di 15 kabupaten/kota.
Ternyata, upaya BI Sulut untuk membawa produk lokal naik kelas membuahkan hasil. Beberapa UMKM binaan sudah berhasil menembus pasar ekspor, yakni CV Narasi Pangan mengekspor vanilla beans ke Korea Selatan dan baru saja menandatangani nota kesepahaman dengan Jepang pada Agustus 2025, Yofly Smoke of the Seas sukses mengirimkan produk cakalang fufu ke Amerika Serikat, UD Lyvia Nusa Boga mengekspor olahan sambal, abon, dan cemilan ke Tiongkok.
Produk unggulan daerah yang menjadi primadona ekspor yakni mulai dari sambal, abon, kripik pisang, kripik kelapa, hingga cakalang fufu. Selain itu, komoditas rempah seperti vanilla bean dan turunannya juga menjadi andalan.
Tiga Pilar BI
Keberhasilan UMKM Sulut tidak lepas dari program PATUA WANUA yang dijalankan BI sejak 2020. Program ini dirancang menyentuh seluruh rantai usaha, mulai dari rekrutmen, kurasi, bootcamp, pelatihan kelas hingga sekolah lapang, business matching dengan perbankan maupun offtaker, promosi pameran, monitoring, hingga studi banding ke UMKM champion.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara menjalankan berbagai program pengembangan UMKM yang mengacu kepada 3 Pilar utama yaitu, korporatisasi – memperkuat kelembagaan, memperluas mitra, hingga memfasilitasi legalitas usaha (NIB, halal, HAKI, GMP, HACCP); kapasitas – mengasah keterampilan pelaku usaha melalui kurasi produk, pelatihan digital farming, desain fashion, hingga onboarding e-commerce; pembiayaan – membuka akses ke lembaga keuangan melalui business matching dengan bank konvensional dan syariah, serta memanfaatkan aplikasi SIAPIK untuk pencatatan keuangan.
Sementara itu untuk bantuan konkret BI Sulut yakni memberikan berbagai dukungan nyata. Mulai dari fasilitasi keikutsertaan pameran regional, nasional, hingga internasional, pembentukan Koperasi Wale Tani Mapalus, dukungan pengembangan desa wisata, hingga bantuan sarana prasarana produksi dan pemasaran melalui program PI KEKDA.
Pun dari sisi digital, BI Sulut aktif mendorong UMKM onboarding di marketplace serta mengadopsi sistem pembayaran nontunai dengan QRIS Merchant.
Sementara itu dalam mendukung penerapan Ekonomi Syariah, sudah ada 114 UMKM binaan di sektor makanan, minuman, dan kopi olahan yang berhasil memperoleh sertifikasi halal. Capaian ini semakin memperkuat posisi produk lokal untuk bersaing di pasar nasional hingga global.
BI turut berkolaborasi bersama dengan berbagai stakeholder dan mitra strategis. BI juga mendorong transformasi digital UMKM melalui pemanfaatan QRIS dan ekosistem pembayaran non-tunai untuk meningkatkan efisiensi transaksi, sekaligus memperkuat legalitas usaha dengan fasilitasi sertifikasi halal, HAKI, serta pembinaan manajemen.
Ke depan, BI Sulut menargetkan UMKM binaannya menjadi pelaku usaha yang berdaya saing global, adaptif, dan inklusif. Harapannya, produk lokal Sulut tidak hanya memenuhi pasar domestik, tetapi juga semakin banyak yang mampu menembus pasar ekspor dengan kualitas dan branding yang kuat.
“Melalui pendekatan menyeluruh dari hulu ke hilir, kami ingin UMKM Sulut naik kelas, mengoptimalkan potensi lokal, memperluas akses pembiayaan, dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” demikian penegasan dari BI Sulut dalam dokumen resmi program UMKM binaan kepada Katabrita.
Dukungan Pemerintah & Lembaga Keuangaan
Lebih dari 98% unit usaha aktif di wilayah Nyiur melambai ini merupakan UMKM. Selain menyerap sebagian besar tenaga kerja, tetapi juga mendukung perputaran ekonomi lokal, khususnya di sektor perdagangan, kuliner, dan kerajinan rakyat.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sulut, Tahlis Gallang, melalui Sekretaris Dinas menegaskan, berbagai langkah telah ditempuh mulai dari akses permodalan, pendampingan usaha, hingga fasilitasi ekspor.
”Dukungan yang kami berikan yakni kemudahan mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR), pendampingan usaha kecil agar bisa berkembang menjadi menengah hingga kami fasilitasi perizinan dan rekomendasi HAKI bagi produk UMKM,”jelasnya.
Meski demikian, masih didapati tantangan seperti keterbatasan modal, standar kualitas produk yang belum merata, hingga literasi digital yang masih rendah.
Oleh karena itu, transformasi digital menjadi salah satu fokus penting, tidak hanya menyangkut penjualan online, tapi juga pencatatan keuangan, sistem pembayaran cashless, hingga pemanfaatan media sosial untuk promosi.
“Kami mendorong pelatihan pemasaran online, branding, fotografi produk, hingga penggunaan teknologi seperti AI sederhana untuk desain dan copywriting,” tambahnya.
Selain digitalisasi, UMKM Sulut juga diarahkan pada inovasi produk yang ramah lingkungan, berkelanjutan, serta mengangkat kearifan lokal. Branding dengan konsep produk lokal rasa internasional diharapkan bisa memperkuat posisi UMKM di pasar global. Pemerintah pun menyalurkan berbagai program, mulai dari bantuan peralatan produksi; bantuan uang pengganti bahan baku produksi; pelatihan kewirausahaan; pendampingan usaha mencakup legalitas, akses pembiayaan, digitalisasi, dan pemasaran; hingga fasilitasi pameran dalam maupun luar negeri.
Bagi UMKM yang sudah atau sementara ekspor, Dinas turut memberikan pendampingan berupa rekomendasi mempermudah perizinan.
Ke depan, pemerintah daerah menyiapkan rencana jangka menengah dan panjang untuk memperkuat ekosistem UMKM, meliputi kewirausahaan, akses permodalan, pengembangan teknologi digital, peningkatan kualitas SDM, hingga penguatan kemitraan.
Beberapa waktu yang lalu, Bank SulutGo juga menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelaku usaha di sektor-sektor unggulan daerah. Direktur Bank SulutGo, Revino M. Pepah menyatakan langkah ini sejalan dengan program pemerintah dalam memajukan UMKM
Kepala OJK Sulutgomalut, Robert Sianipar mengapresiasi peran aktif Bank SulutGo dalam memperluas akses keuangan bagi masyarakat.
Penyaluran KUR ini menjadi bukti nyata komitmen berbagai pihak dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Utara dan Gorontalo.
Pengamat : Dinamika Positif, Namun Masih ada Kesenjangan
Dr. Joy Elly Tulung, seorang akademisi Universitas Samratulangi (Unsrat) menilai bahwa perkembangan UMKM di Indonesia, termasuk di Sulawesi Utara, sebenarnya menunjukkan dinamika yang cukup positif.
Banyak pelaku usaha sudah mulai terkoneksi dengan ekosistem digital, baik melalui QRIS, marketplace, maupun social commerce. Namun, masih ada kesenjangan: hanya sebagian kecil UMKM yang berhasil naik kelas dengan pembukuan yang rapi, standar mutu terjaga, dan akses pasar lebih luas.
Momentum pariwisata seperti Likupang, Bunaken, dan Tomohon mendorong lahirnya produk kuliner, kriya etnik, serta jasa pariwisata yang berpotensi menembus pasar global.
Joy yang juga adalah Ketua ISEI Cabang Manado ini mengemukakan bahwa meski peluang besar terbuka, tantangan UMKM untuk naik kelas tidak sederhana.
“Masalah klasik yang sering ditemui adalah modal kerja yang terbatas, kapasitas SDM dan manajemen yang masih rendah, serta kesulitan menjaga konsistensi kualitas produk. Digitalisasi memang berkembang, tetapi sebagian besar UMKM baru sebatas pada promosi online, belum menyentuh aspek manajemen stok atau pengelolaan pelanggan. Di sisi lain, biaya logistik yang tinggi, standar sertifikasi yang kompleks, dan keterbatasan akses pasar ekspor membuat banyak UMKM kesulitan menembus pasar luar negeri,” urainya.
Menurutnya, dari sisi teknologi dan keberlanjutan, sebagian pelaku usaha mulai beradaptasi, tetapi tuntutan buyer global seperti traceability, standar higienis, serta aspek ESG masih perlu didorong melalui pendampingan yang lebih intensif.
Bank Indonesia memiliki peran yang sangat signifikan dalam membina UMKM melalui kurasi, inkubasi, hingga promosi dan digitalisasi transaksi lewat QRIS.
Namun kata dia, keberhasilan UMKM tidak bisa hanya bertumpu pada satu pihak diperlukan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan asosiasi bisnis . “ BI bisa fokus pada kualitas dan sistem, Pemda menguatkan infrastruktur dan regulasi yang pro-UMKM, sedangkan asosiasi menyediakan jejaring pasar, mentoring, dan agregasi pasokan. Dan perlu perkuat pembiayaan ekspor berbasis purchase order, fasilitas bersama (cold storage, laboratorium uji), dan keberadaan coach ekspor yang bisa mendampingi secara langsung,” rekomendasinya.
Peluang besar yang semakin relevan adalah UMKM berbasis syariah atau halal. Pasar halal dunia terus tumbuh, tidak hanya pada produk pangan, tetapi juga kosmetik, fashion, hingga wellness.
“Untuk masuk ke rantai pasok halal global, UMKM perlu memastikan sertifikasi halal, traceability bahan baku, standar kebersihan dan keamanan pangan, serta kesiapan menghadapi audit internasional. Label dan kemasan juga harus sesuai standar global, termasuk informasi gizi dan bahasa yang dipahami pasar tujuan. Tren konsumen dunia saat ini mendukung produk halal, organik, dan berbasis kearifan lokal. Produk dengan clean label, ethical sourcing, dan narasi heritage semakin diminati, memberi peluang bagi UMKM Indonesia untuk meraih premium pricing,” imbuhnya.
Kedepan apabila UMKM bisa menembus ekspor, dampaknya akan signifikan terhadap perekonomian daerah. Lapangan kerja yang tercipta lebih berkualitas, kontribusi terhadap pendapatan daerah meningkat, dan daya saing wilayah ikut terdongkrak.
“Untuk jangka panjang, roadmap UMKM sebaiknya dirancang berjenjang: dalam 1 tahun pertama memperkuat fondasi formalitas usaha dan standar produk, dalam 1–3 tahun membangun fasilitas bersama dan sistem pembiayaan berbasis kontrak, lalu pada 3–5 tahun fokus pada ekspor, branding daerah, serta penguatan SDM dan talenta lokal,” usul dia.
“Mulailah membenahi pembukuan, jaga standar kualitas, fokus pada satu produk unggulan yang memiliki cerita dan nilai tambah, bangun jaringan, memanfaatkan pembiayaan yang sesuai, dan disiplin dalam mengelola dokumen serta negosiasi. Dengan disiplin, konsistensi, dan keberanian, UMKM Sulut tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berpeluang besar menembus pasar global” pesannya.
Pandangan Asosiasi UMKM, Pemerhati Pariwisata & UMKM
Asosiasi Pengusaha Mikro Kecil Menengah Mandiri Indonesia (APMIKINDO) DPD Sulawesi Utara melalui Yeshinta Egeten menilai dukungan Bank Indonesia bersama pemerintah daerah telah memberi banyak ruang bagi UMKM lokal untuk berkembang.
Namun, dirinya mengemukakan terdapat berbagai kendala ketika pelaku UMKM yang secara mandiri akan mengekspor produknya.
Memang kata dia, untuk UMKM siap ekspor masih terbilang sedikit di Sulawesi Utara.
“Saya sendiri masih berjuang untuk bisa menembus ekspor, tapi terkendala mencari buyer potensial. Sebagai pemula kami harus berhati-hati terhadap penipuan,” curhatnya.
Yeshinta yang juga seorang konten creator ini menambahkan, termotivasi dengan pencapaian UMKM Binaan BI, program seperti WUBI dan fasilitasi pameran perlu diperluas agar semakin banyak UMKM bisa naik kelas.
“Saya berharap juga bisa segera goal ekspor, namun tentunya dukungan dari pemerintah sangat diperlukan. Pendampingan penuh yang benar-benar dan bukan sekedar hanya melalui zoom atau seminar-seminar, tapi didampingi secara personal untuk betul-betul sampai tembus ekspor,” harapnya.
Sementara itu, salah satu pelaku UMKM, Dhaw Kitchen mengeluhkan kemasan yang susah didapat di Kota Manado. “Harus pesan diluar yang bagus, tapi mahal dan jumlahnya harus banyak. Sedangkan kami hanya usaha kecil,” keluhnya.
Adapun, pemerhati Pariwisata dan UMKM, Heidi Repi menilai agar UMKM di Sulut bisa berkembang perlunya berbagai pendampingan serta pelatihan, terutama pemasaran digital.
Dalam hal pemasaran, Triyono yang seorang tour guide mengatakan perlunya ada sinergi antara Pemerintah, Pelaku UMKM dan agen perjalanan agar produk UMKM Sulut bisa diperkenalkan kepada wisatawan yang melancong ke Sulut.
Harapan Yana, Asa UMKM Sulut
Meskipun sudah menadatangani kontrak kerjasama dengan buyer Tiongkok, Yana sadar perjalannnya masih panjang.
Ia berterima kasih kepada BI yang telah banyak membantunya untuk masuk pasar global, pun berharap dukungan pembinaan tidak berhenti di pelatihan.
“Kami perlu pendampingan dan bimbingan yang lebih personal untuk ekspor, terutama perijinan. serta UMKM kita ini dibuatkan Cluster, mana yang masih pemula, menengah dan yang sudah siap ekspor supaya tidak berantakan. Karena yang sudah siap bisa sama-sama berkolaborasi,” usulnya.
Yana menitipkan pesan sederhana untuk pelaku usaha : jadilah UMKM yang kreatif dan inovatif dan tangguh agar bisa bertahan ditengah persaingan.
“Kuncinya konsistensi, walau jenuh, jangan patah semangat dan terus berinovasi. Karena apa yang kita kerjakan pasti akan ada hasilnya,” tutupnya
(Indah)







