Pengamat Politik Sulut : Quick Count Bukan Hasil Akhir

Politik, Sulut2448 Dilihat

Katabrita – Hajatan Demokrasi untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur dan Wakil Gubernur (Wagub) Sulawesi Utara (Sulut) 2024 sudah selesai.

Kini masyarakat tengah menunggu hasil resmi dari penyelenggara Pilkada yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk mengumumkan hasil penghitungan suara.

Sementara itu, diluar sana, salah satu lembaga survey telah mengumumkan pemenang hasil hitung cepat mereka.

Direktur Bidang Kajian Ilmu Politik Sulut Political Institute Dr Johny Lengkong, SIP MSi mengapresiasi pelaksanaan pilkada tahun ini berjalan aman dan lancar meskipun banyak hal terjadi di luar perkiraan.

Dirinya berharap Pilkada ini akan mendapatkan figur yang terbaik dan mendapatkan legitimasi masyarakat.

”Hasil quick count lembaga survei Charta Politika menyebutkan paslon nomor 1 yakni YSK-Victory mengungguli paslon nomor 2 E2L-HJP dan paslon nomor 3 SK-DT. Itulah hasil lembaga survei yang selisihnya hampir 5 persen. Tapi apakah ini hasil akhir? Tidaklah demikian karena hasil akhir proses pemilihan, legal formalnya dilakukan oleh KPU lewat rekapitulasi/pleno secara berjenjang,” ujar Johny Lengkong yang didampingi Jubir FPDR Sulut Ronald Ginting SSos, dan Peneliti Rumah Nusantara Andreas Sabawa SE pada konferensi pers Kamis (28/11) 2024.

Dikatakan Lengkong bahwa KPU Sulut harus mempercepat proses rekapitulasi. Pasalnya sudah ada paslon yang klaim kemenangan.

“Untuk hitung cepat, bisa juga ada bias misalnya ada kesalahan pengambilan sampel TPS, namun nantinya dinetralkan oleh hasil rekap resmi KPU,” beber Lengkong.

Dirinya pun meminta agar semua pihak tetap sabar menunggu hasil resmi dan jangan mengintervensi kerja penyelenggara.

”Berikan kesempatan kepada KPU untuk melaksanakan tugasnya secara baik, bekerja berdasarkan aturan yang ada. Bawaslu, paslon, saksi dan masyarakat sama-sama mengawal proses ini,” lanjut dia.

Akademisi perguruan tinggi di Sulut ini menambahkan bahwa jalur konstitusional bisa ditempuh oleh paslon. Asalkan dipandang ada perbedaan hasil guna mencegah kegaduhan di tengah masyarakat itu sendiri.

”Mari kita jaga bersama kerukunan dan kondusivitas daerah kita, apalagi dalam waktu dekat kita sudah mulai mempersiapkan diri menyambut Hari Raya,” kata dia.

Sementara itu, Andreas Sabawa mengatakan ilmu statistik di quick count tidaklah salah, dan merupakan bagian dari matematika. Namun ada beberapa variabel yang menentukan, bahkan ada margin error.

“Nah ini jika salah menentukan hasilnya akan bias terutama saat pengambilan populasi sampel,” jelas Andreas.

”Jadi kita tunggu hasil resmi seperti apa. Beri ruang bagi KPU bekerja secara baik,” tutupnya.

 

(*/in)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Kata Brita di saluran WHATSAPP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *