Katabrita – Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara mencatat adanya kenaikan inflasi pada Maret 2025 akibat penyesuaian tarif listrik nasional serta naiknya harga komoditas pangan strategis, khususnya cabai rawit dan tomat. Meski demikian, BI memastikan inflasi Sulut masih berada dalam sasaran target nasional.
Saat Pemaparan Outlook Perekonomian pada halal bihalal, Kepala Perwakilan BI Sulut, Andry Prasmuko, menjelaskan bahwa inflasi bulan Maret relatif lebih tinggi dibandingkan Februari. Namun, pihaknya tetap optimistis inflasi Sulut hingga akhir 2025–2026 dapat terkendali pada kisaran 2,5 persen ± 1 persen.
“Perubahan harga di bulan Maret 2025 memang dipengaruhi kenaikan tarif listrik dan harga komoditas hortikultura. Tetapi secara keseluruhan, inflasi Sulut masih dalam rentang target nasional. Kami yakin tren ini bisa dijaga dengan langkah sinergis bersama pemerintah daerah dan stakeholder lainnya,” kata Andry, Kamis (24/4) 2025.
Lebih lanjut, BI menilai penguatan ekosistem pangan menjadi kunci utama dalam menjaga daya beli masyarakat. Program Swasembada Pangan serta Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang terus digencarkan diyakini mampu menekan potensi gejolak harga pangan di daerah.
“Upaya meningkatkan ketahanan pangan melalui kolaborasi lintas sektor akan memperkuat stabilitas harga di Sulawesi Utara. Dengan demikian, daya beli masyarakat tetap terjaga dan perekonomian dapat tumbuh berkelanjutan,” tambahnya.
Selain itu, BI Sulut menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mendukung stabilitas inflasi dengan pola konsumsi yang bijak dan partisipasi aktif dalam program swasembada pangan.
(*/in)
