PPK Gelar Diskusi Publik Refleksi Dua Tahun Asta Cita di Manado

Berita721 Dilihat

Katabrita – Perkumpulan Pemuda Keadilan (PPK) menggelar diskusi publik dalam rangka refleksi dua tahun Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kegiatan yang mengangkat tema “Merawat Toleransi, Menguatkan Ekonomi Biru” ini berlangsung di salah satu hotel di Kota Manado, Sabtu (31/10) 2026.

Diskusi tersebut menghadirkan politisi sekaligus mantan anggota DPR RI, Kamran Mochtar Podomi, serta akademisi dan budayawan Sulawesi Utara (Sulut), Reiner Emyot Ointoe.

Ketua Umum PPK, Dendi Budiman, mengatakan kegiatan ini menjadi ruang diskusi dan refleksi terhadap pelaksanaan Asta Cita yang telah berjalan selama dua tahun pemerintahan Prabowo.

Menurutnya, salah satu hal penting yang menjadi perhatian dalam agenda pemerintahan saat ini adalah mewujudkan kedaulatan bangsa, khususnya di sektor energi dan pangan.

“Pak Prabowo betul-betul ingin kedaulatan bangsa bisa diwujudkan, melalui kedaulatan energi, pangan. Semoga ini bisa terwujud,” ujar Dendi.

Ia berharap diskusi publik seperti ini dapat terus berlanjut dan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga mendorong keterlibatan aktivis serta masyarakat sipil dalam pembangunan bangsa.

“Kita berharap, diskusi seperti ini tidak hanya berakhir di sini, tetapi terus berlanjut sehingga peran kita sebagai aktivis, sebagai masyarakat sipil, itu betul-betul bisa diwujudkan menuju kedaulatan kita sebagai satu bangsa dan menuju Indonesia Emas 2045,” sambungnya.

Sementara itu, Kamran Mochtar Podomi menilai Asta Cita merupakan sebuah harapan besar agar sumber daya yang dimiliki Indonesia dapat memberikan kontribusi dalam berbagai aspek pembangunan.

Ia juga menyoroti aspek humanis dalam agenda tersebut, khususnya Asta Cita kedelapan yang berkaitan dengan penguatan toleransi.

“Khususnya pada Asta Cita ke delapan, yang menitikberatkan pada aspek toleransi,” ucapnya.

Kamran menjelaskan, pelaksanaan berbagai kebijakan dalam Asta Cita membutuhkan proses dan mekanisme pemerintahan yang sesuai dengan ketentuan hukum, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Menurutnya, delapan agenda tersebut merupakan program besar yang membutuhkan keterlibatan dan kesadaran seluruh warga negara agar dapat diwujudkan secara maksimal.

“Agar bisa terealisasi secara maksimal, delapan program ini harus dieksekusi dengan penuh kesadaran oleh seluruh warga negara Indonesia,” bebernya.

Pada kesempatan yang sama, Reiner Emyot Ointoe turut memberikan pandangan terkait pelaksanaan Asta Cita, khususnya di tingkat daerah. Ia menilai terdapat sejumlah paradoks dalam implementasinya yang perlu menjadi perhatian.

Reiner juga menyinggung sosok Presiden Prabowo Subianto yang menurut pandangannya memiliki kemiripan dengan mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

“Tapi Gus Dur lebih berani, karena dia tahu persis bahwa yang dia hadapi adalah perilaku orang-orang di sekelilingnya,” jelasnya.

Kegiatan diskusi publik tersebut ditutup dengan deklarasi penolakan terhadap hoaks dan disinformasi yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

(*/in)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Kata Brita di saluran WHATSAPP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *