Katabrita — Rangkaian kegiatan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2025 di Provinsi Sulawesi Utara mencatat hasil menggembirakan. Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Utara dan Gorontalo (SulutGo), sepanjang September hingga puncak acara pada Jumat (25/10/2025), tercatat 90 kegiatan yang melibatkan 8.598 peserta di berbagai wilayah.
Dari kegiatan tersebut, masyarakat membuka 2.362 rekening tabungan, 196 rekening efek, dan menerima 584 kredit atau pembiayaan baru dengan total nilai Rp74,72 juta. Angka ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat Sulawesi Utara dalam mengakses layanan keuangan formal.
Kepala OJK SulutGo, Robert Sianipar, menyebut capaian tersebut sebagai bukti nyata bahwa upaya literasi dan inklusi keuangan mulai membuahkan hasil.
“Capaian ini menunjukkan bahwa literasi keuangan mulai tumbuh dan masyarakat semakin sadar pentingnya menabung serta bertransaksi di lembaga keuangan resmi,” ujarnya.
Robert menambahkan, kegiatan BIK menjadi sarana efektif untuk memperluas akses keuangan, khususnya di daerah-daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Melalui kerja sama dengan industri jasa keuangan, masyarakat didorong untuk mengenal produk keuangan yang aman, mudah diakses, dan sesuai kebutuhan.
Selain pembukaan rekening, berbagai kegiatan edukatif seperti talk show, konsultasi keuangan, hingga kampanye Gerakan Menabung turut digelar untuk mendorong kesadaran finansial di kalangan pelajar, pelaku UMKM, dan masyarakat umum.
Sementara itu, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Sulawesi Utara, Christian Talumepa, yang hadir mewakili Gubernur Yulius Selvanus, menyampaikan apresiasi kepada OJK atas kontribusinya dalam menggerakkan ekonomi daerah.
“Pemerintah Provinsi memberikan apresiasi kepada OJK yang selalu menjadi mitra strategis pemerintah. OJK telah berperan nyata dalam menggerakkan ekonomi di Sulawesi Utara, yang dapat dilihat dari berbagai kegiatan dan inisiatif yang dilakukan selama ini,” ujar Talumepa.
Ia menambahkan, kegiatan seperti BIK dan FinEXPO memiliki dampak nyata dalam membuka peluang ekonomi serta memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal.
Robert menegaskan, OJK bersama lembaga jasa keuangan dan pemerintah daerah akan terus memperkuat sinergi agar hasil BIK tidak berhenti pada seremoni, melainkan memberi efek berkelanjutan bagi ekonomi daerah.
“Inklusi keuangan bukan sekadar angka, tetapi tentang menghadirkan kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat untuk tumbuh dan berkembang melalui akses keuangan yang adil,” tegasnya.
Kegiatan BIK 2025 di Sulut menjadi bagian dari upaya nasional mewujudkan target inklusi keuangan sebesar 91 persen pada tahun 2025, sejalan dengan arah pembangunan ekonomi inklusif yang dicanangkan pemerintah.
(*/in)







