Pegadaian Perkuat Ekosistem Bank Sampah Lewat Program TJSL dengan Menggadeng Forsepsi

Ekonomi, Ekonomi1293 Dilihat

Katabrita – PT Pegadaian Kantor Wilayah V Manado menegaskan komitmennya dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat melalui penguatan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Bekerja sama dengan Forum Sahabat Emas Peduli Sampah (Forsepsi), Pegadaian mendorong pengembangan bank sampah binaan yang tersebar di wilayah Sulawesi Utara, Tengah, Gorontalo, Maluku Utara, dan Papua.

Deputi Operasional Pegadaian Kanwil V Manado, Widi Sunardi, menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari misi perusahaan untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

“Pemahaman dasarnya, sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Pegadaian ingin menjadi katalis perubahan melalui pendekatan edukatif dan berbasis komunitas,” ujar Widi dalam kegiatan Konsolidasi Bank Sampah Binaan Pegadaian yang digelar di Hotel Amaris Megamas, Manado, Kamis (3/7) 2025.

Program ini juga selaras dengan kebijakan perusahaan bertajuk Green Life Action Movement (GLAM) yang telah berjalan di internal Pegadaian. Kebijakan ini menekankan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, seperti larangan menyediakan air minum dalam kemasan plastik untuk tamu maupun karyawan.

Tak hanya itu, Pegadaian turut menggandeng komunitas lokal dalam mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomi seperti ecoprint untuk bantal, kerajinan hias, serta tas dari kemasan permen, kopi sachet, dan snack.

Yang menarik dari pendekatan ini, masyarakat yang menyetorkan sampah ke bank sampah dapat menukar hasilnya ke dalam bentuk saldo Tabungan Emas, menjadikan program ini sebagai jembatan antara edukasi lingkungan dan literasi keuangan.

“Kami mendukung bank sampah melalui penyediaan sarana operasional seperti timbangan, mesin press, motor roda tiga, serta pelatihan. Semua ini bagian dari program TJSL kami,” tambah Widi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara, Feibe Rondonuwu, turut memberikan apresiasi atas inisiatif Pegadaian yang dinilai tidak hanya menawarkan solusi teknis pengurangan sampah, tetapi juga menguatkan partisipasi aktif masyarakat.

“Bank sampah bukan sekadar tempat menaruh sampah. Ia menjadi sarana edukasi publik, dan bentuk nyata kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha,” ujar Feibe.

DLH mengakui bahwa penanganan sampah membutuhkan dukungan lintas sektor, mengingat masih banyak tantangan di lapangan seperti minimnya pengangkutan sampah di sejumlah titik.

Dengan strategi berkelanjutan dan sinergi multisektor, program Bank Sampah Binaan Pegadaian diharapkan mampu menciptakan perubahan nyata dalam pengelolaan lingkungan serta kesejahteraan masyarakat di wilayah Indonesia Timur.

 

(*/in)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Kata Brita di saluran WHATSAPP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *