PGE Lahendong Dorong Energi Bersih dan Ketahanan Pangan Lewat Inovasi Geothermal

Ekonomi, Ekonomi742 Dilihat

Katabrita — Dalam kegiatan sosialisasi Anugerah Jurnalistik Pertamina (AJP) 2025 yang digelar di Makassar, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Lahendong menegaskan komitmennya untuk terus mendukung transisi energi bersih dan mendongkrak ketahanan pangan nasional melalui pemanfaatan energi panas bumi (geothermal) secara berkelanjutan.

Didih, perwakilan dari PGE Lahendong, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi panas bumi luar biasa, mencapai lebih dari 23 GW, namun baru sekitar 2,6 GW yang terpasang. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa pengembangan geothermal masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam aspek regulasi, perizinan, dan skema jual beli dengan PLN sebagai offtaker tunggal.

“Energi geothermal adalah sumber daya bersih yang operasionalnya minim dampak lingkungan. Tapi realisasi pemanfaatannya masih rendah. Media punya peran penting melalui AJP untuk mendorong narasi transisi energi dan ketahanan energi nasional,” ujar Didih.

PGE Lahendong saat ini mengoperasikan unit pembangkit di wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo, yang mampu menerangi lebih dari 133.000 rumah tangga. Selain memproduksi listrik, PGE juga mendorong pemanfaatan langsung geothermal (direct use) untuk kebutuhan masyarakat.

Salah satu inovasi menarik adalah pemanfaatan panas buangan dari proses pembangkitan untuk pemanasan kolam pemandian air panas, pengeringan produk pertanian, hingga pengolahan gula aren secara efisien dan ramah lingkungan. Proses produksi gula aren yang sebelumnya menggunakan kayu bakar kini beralih ke sumber panas geothermal, yang telah menyelamatkan sekitar 965 pohon dari potensi penebangan.

“Geothermal bukan hanya listrik. Di Jepang dan Turki, panas bumi digunakan untuk pemanas ruangan dan industri. Di sini, kami mulai memanfaatkannya untuk kolam rendam, pengolahan gula aren, bahkan budidaya ternak dan konservasi satwa,” jelasnya.

PGE Lahendong juga mengembangkan pupuk silika cair dari endapan pipa panas bumi, yang dikenal dengan nama Booster Katrili. Produk ini menjadi alternatif penguat pupuk bagi petani lokal, sebagai bagian dari kontribusi terhadap program Swasembada Pangan yang dicanangkan oleh Presiden RI.

Lebih lanjut, Didih menyinggung program konservasi berbasis geothermal, seperti rehabilitasi monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) yang kini statusnya nyaris punah. Dengan bantuan PLTS dan sistem CCTV, PGE mendukung proses habituasi hewan langka tersebut agar dapat kembali ke habitat aslinya.

Dalam penutupnya, Didih mengajak insan media untuk menggali lebih dalam potensi energi geothermal sebagai bagian dari solusi iklim dan ekonomi lokal.

“Kami percaya, lewat AJP, media bisa mengangkat sisi humanis, sosial, dan inovasi energi bersih yang berdampak langsung bagi masyarakat. Transisi energi tidak bisa hanya dibicarakan di pusat, tapi harus dilihat dari tapak,” tutupnya.

 

(*/in)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Kata Brita di saluran WHATSAPP