Katabrita – Dalam acara halalbihalal Idul Fitri 1446 H yang dirangkaikan dengan pemaparan outlook perekonomian Sulawesi Utara, Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulut menegaskan pentingnya ketahanan pangan sebagai fondasi stabilitas harga daerah. Melalui Program Swasembada Pangan dan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), BI bersama pemerintah daerah berupaya menekan potensi gejolak harga komoditas pangan strategis.
Kepala Perwakilan BI Sulut, Andry Prasmuko, dalam pemaparannya menyampaikan bahwa inflasi Maret 2025 sempat naik akibat penyesuaian tarif listrik serta kenaikan harga cabai rawit dan tomat. Namun, secara keseluruhan inflasi tahunan diperkirakan tetap terkendali dalam kisaran target nasional 2,5 ± 1 persen.
“Pangan menjadi komponen terbesar pembentuk inflasi di Sulut. Karena itu, memperkuat ekosistem pangan melalui swasembada dan efisiensi distribusi adalah langkah utama menjaga daya beli masyarakat,” ujar Andry saat memaparkan outlook perekonomian, pada Kamis (24/4) 2025.
Menurutnya, BI Sulut telah bersinergi dengan pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota untuk meningkatkan produksi, memperkuat distribusi, serta memanfaatkan teknologi pertanian guna menekan disparitas harga. “Dengan adanya GNPIP, kita bisa mengurangi ketergantungan impor pangan sekaligus menjaga stabilitas harga di pasar lokal,” tambahnya.
Beberapa program konkret yang digagas antara lain peningkatan produksi hortikultura, penguatan kelembagaan petani, serta pemanfaatan lahan tidur untuk tanaman pangan. Program ini tidak hanya menjaga inflasi tetap rendah, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah dalam jangka panjang.
Melalui forum outlook ekonomi yang dirangkaikan dengan halal bihalal ini, BI Sulut berharap kolaborasi lintas sektor terus diperkuat, agar Sulawesi Utara mampu mencapai swasembada pangan dan menghadapi gejolak harga global dengan lebih tangguh.
(*/in)







