Katabrita – Dalam forum investasi North Sulawesi Investment Forum (NSIF) 2025, Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara menegaskan bahwa perekonomian daerah ini masih sangat bergantung pada lima sektor utama. Pertanian, perdagangan, industri pengolahan, transportasi, dan konstruksi tercatat menyumbang hingga 67 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulut.
Sektor pertanian menempati posisi tertinggi dengan pangsa 21,05 persen, terutama berasal dari Minahasa, Minahasa Utara, dan Bolaang Mongondow. Namun, pada triwulan II 2025, kinerja pertanian melambat akibat berkurangnya luas panen padi dan produksi jagung.
Di sisi lain, industri pengolahan mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 12,76 persen, didorong peningkatan ekspor perikanan dan melonjaknya konsumsi listrik industri. Sektor perdagangan juga memberikan kontribusi besar, meski mengalami tekanan akibat turunnya kredit konsumsi dan penjualan ritel.
“Perekonomian Sulawesi Utara masih ditopang oleh lima sektor utama, yaitu pertanian, perdagangan, industri pengolahan, transportasi, dan konstruksi. Kelima sektor ini berkontribusi hingga 67 persen terhadap PDRB,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulut, Joko Supratikto dalam forum NSIF 2025 di Manado.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan investasi (PMTB) menjadi penggerak utama dengan kontribusi hingga 72 persen terhadap PDRB. Meski konsumsi rumah tangga tumbuh positif 3,80 persen, realisasi investasi justru masih terbatas dan mencatat kontraksi.
“Meskipun sektor pertanian melambat akibat penurunan luas panen padi dan jagung, sektor industri pengolahan justru mencatat pertumbuhan dua digit berkat meningkatnya ekspor perikanan dan konsumsi energi industri,” jelasnya.
BI menekankan bahwa memperkuat lima sektor strategis tersebut akan menjadi kunci menjaga ketahanan ekonomi Sulut di tengah dinamika global maupun nasional. “Ke depan, keseimbangan antara konsumsi dan investasi harus terus diperkuat agar pertumbuhan ekonomi lebih berkelanjutan,” tambah Joko.
(*/in







