Peringati 30 Tahun Kudatuli, PDIP Manado Tekankan Pentingnya Politik Beradab & Militansi Nasionalis

Manado1897 Dilihat

MANADO – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Manado menjadi tuan rumah peringatan 30 tahun peristiwa Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli atau yang lebih dikenal sebagai Kudatuli. Acara refleksi sejarah ini berlangsung di kantor DPC PDIP Kota Manado, Jalan Ring Road II, Kelurahan Buha, Kecamatan Mapanget, pada Senin (27/7/2026).

Kegiatan dikemas dalam bentuk penghayatan untuk menggugah semangat patriotisme dan militansi para kader.

Rangkaian acara diisi dengan doa bersama, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars dan Hymne PDIP, pembacaan puisi, atraksi teatrikal, serta pemutaran video dokumenter penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta, yang terjadi pada 27 Juli 1996 silam.

Acara tersebut dihadiri oleh jajaran DPD PDI Perjuangan Sulawesi Utara, termasuk Wakil Ketua Drs. Steven OE Kandouw, Sekretaris Reza Rumambi, dan Bendahara Andrei Angouw yang juga menjabat sebagai Wali Kota Manado. Dari jajaran DPC Manado, hadir Ketua dr. Richard Sualang (Wakil Wali Kota Manado), Sekretaris Jefry Polii, dan Bendahara Aaltje Dondokambey (Ketua DPRD Manado).

Turut hadir pula Ketua DPRD Sulut Fransiskus Silangen, Fraksi PDIP Sulut dan Manado, para pelaku sejarah, senior partai, serta ratusan kader PDIP.

Dalam sambutannya, Ketua DPD PDIP Sulut Olly Dondokambey yang diwakili oleh Wakil Ketua Steven Kandouw menegaskan bahwa peristiwa Kudatuli bukanlah sekadar konflik internal antara Suryadi dan Megawati Soekarnoputri. Menurutnya, peristiwa tersebut merupakan manifestasi dari terganggunya pemerintahan Orde Baru akibat tampilnya salah satu anak Proklamator Soekarno.

“Peristiwa Kudatuli yang terjadi 30 tahun lalu, ini bukan antara Suryadi dan Megawati, tetapi terganggunya pemerintah Orde Baru dengan munculnya anak Soekarno. Bahaya harus diamputasi dengan segala cara dilakukan untuk menjegal Megawati,” ungkap Kandouw.

Ia menambahkan bahwa peradaban identik dengan demokrasi. Siapa pun yang mengkhianati Ibu Pertiwi, pada akhirnya akan dihukum oleh Ibu Pertiwi itu sendiri.

Kandouw menekankan pentingnya berpolitik secara beradab sebagai catatan sejarah bagi seluruh kader.

Ia mengingatkan agar tidak menghalalkan segala cara, karena militansi sejati merupakan ciri khas seorang nasionalis.

“Sehingga menjadi catatan bagi kita semua, berpolitiklah secara beradab. Jangan menghalalkan segala cara karena militansi merupakan salah satu ciri Nasionalis. Peristiwa Kudatuli juga mengingatkan kita untuk tetap solid, gotong royong, dan saling bantu,” pungkas Kandouw.

Peringatan 30 tahun Kudatuli ini merupakan implementasi langsung dari pesan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar generasi penerus partai senantiasa melawan lupa, menjaga demokrasi, dan merawat Indonesia. (*)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Kata Brita di saluran WHATSAPP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *