MANADO – Fenomena El Nino yang memperpanjang musim kemarau membuat suhu udara di Kota Manado semakin panas dan kondisi lingkungan rentan terhadap si jago merah. Di tengah debit air yang terus menurun, laporan kebakaran justru terus berdatangan hampir setiap hari.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Manado, Noviyanti Mongkau, S.E., mengonfirmasi lonjakan insiden ini. Berdasarkan data Call Center 112 Manado, terdapat peningkatan laporan kebakaran setiap bulannya sejak Juni.
“Hingga per hari ini, 18 September 2026, terdapat 311 laporan kebakaran,” ungkap Noviyanti.
Angka 311 ini bukan sekadar deretan data, melainkan potret ancaman nyata di tengah cuaca kering. Api lebih mudah menyala dan membesar, mengancam keselamatan warga. Jenis kejadiannya pun beragam, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga kebakaran sampah yang berpotensi meluas.
Di tengah kepulan asap dan panas yang menyengat, para petugas pemadam kebakaran terus bergerak. Salah satunya adalah sosok yang akrab disapa masyarakat melalui media sosial sebagai “Om Damkar”.
Sosok “Om Damkar”: Dari Honorer hingga ASN

Di balik nama yang kini viral itu, tidak ada jabatan istimewa. Ia adalah Hilario Mario Anlo, staf di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Manado. Perjalanan pengabdiannya dimulai pada Maret 2021 sebagai tenaga honorer, sebelum akhirnya resmi diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) pada tahun 2025.
“Saya bangga menjalani pekerjaan sebagai ASN, apalagi terkait dengan menyelamatkan nyawa orang,” ujarnya saat diwawancarai di Pos Pemadam Kebakaran Kecamatan Mapanget.
Nama “Om Damkar” lahir dari percakapan sederhana dengan sang istri yang kerap menyemangatinya dengan kalimat, “Semangat Om Damkar.” Sejak 2025, Ia mengganti nama akun media sosialnya menjadi “Om Damkar” dan rutin membagikan konten visual saat petugas menangani kebakaran. Kedekatan di dunia maya ini membuka ruang komunikasi luas dengan masyarakat, namun juga menghadirkan tantangan baru.

“Jangan Viral Dulu, Telepon 112!”
Di era digital, kebakaran sering kali lebih dulu viral di media sosial sebelum diketahui petugas. “Om Damkar” kerap mendapati warga mengunggah video kebakaran dan menandai akunnya, berharap petugas segera datang.
Padahal, informasi di media sosial belum tentu menjadi laporan resmi yang bisa langsung dieksekusi. Ia pun mengimbau masyarakat untuk tidak menjadikan media sosial sebagai jalur darurat.
“Jangan dulu diunggah di media sosial, langsung hubungi kami di Layanan Call Center 112, bebas pulsa,” tegasnya.
Ia menjelaskan, operator 112 siap menerima laporan 24 jam dan langsung meneruskannya ke petugas untuk ditindaklanjuti. Dalam situasi darurat, informasi yang cepat dan tepat jauh lebih berharga daripada informasi yang ramai di internet. Beberapa menit keterlambatan informasi dapat menentukan kondisi yang akan dihadapi petugas di lokasi.
Mempertaruhkan Nyawa dan Trauma Mega Mall
Ketika laporan masuk, tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Armada yang sudah terisi air langsung melaju. Namun, perjalanan menuju lokasi penuh risiko, mulai dari kemacetan hingga akses jalan sempit berlilit kabel listrik.
“Pekerjaan kami sudah mempertaruhkan nyawa. Di perjalanan menuju lokasi kebakaran saja sudah mempertaruhkan nyawa, apalagi di lokasi,” ujarnya.
Sering kali, kondisi di lapangan berbeda dengan laporan awal. Kebakaran alang-alang yang dikira kecil, bisa tiba-tiba menjalar ke rumah warga. Menghadapi situasi ini, “Om Damkar” menyadari bahwa keberanian saja tidak cukup.
“Kami tidak jago menghadapi kebakaran, tetapi kami terlatih untuk menghadapi kebakaran,” ungkapnya.
Di balik seragam dan helm yang melambangkan keberanian, rasa takut tetap ada. Namun, ada yang lebih besar dari rasa takut tersebut. “Rasa takut saya dikalahkan oleh keinginan saya untuk menyelamatkan nyawa,” katanya.

Kalimat ini bukan sekadar slogan. Insiden kebakaran di Mega Mal pada Sabtu, 16 Mei 2026, yang menewaskan seorang karyawan, menjadi trauma dan pengalaman terberat baginya. Saat itu, masih ada korban di dalam bangunan, namun akses tertutup kobaran api. Bagi seorang pemadam, ketidakmampuan untuk masuk dan menyelamatkan nyawa adalah beban mental yang sangat berat.
Apresiasi, Cacian, dan Himbauan Pencegahan
Menjadi garda terdepan berarti siap menerima segala respons. Apresiasi masyarakat menjadi penyemangat, namun kritik hingga cacian juga kerap datang jika penanganan tidak sesuai harapan warga.
“Sudah biasa. Itu memang risiko pekerjaan kami,” katanya pasrah, seraya menegaskan bahwa keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.
Menutup perbincangan, di tengah musim kemarau yang diprediksi masih akan berlangsung, “Om Damkar” mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Pencegahan adalah kunci.
“Masyarakat diharapkan tidak membakar sampah secara sembarangan, memastikan instalasi listrik aman, serta memastikan kompor maupun peralatan yang dapat memicu api telah dimatikan setelah digunakan,” pungkasnya.
Di tengah 311 laporan kebakaran yang masuk, pesan sederhana dari “Om Damkar” ini menjadi pengingat bahwa keselamatan kota bukan hanya tugas pemadam, melainkan tanggung jawab bersama seluruh warga Manado. (*)
