BI dan Pemkab Minahasa Perkuat Sinergi Jaga Inflasi Lewat HLM TPID dan Kerja Sama Daerah

Ekonomi, Ekonomi, Minahasa, Sulut1284 Dilihat

Katabrita — Dalam upaya memperkuat pengendalian inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, Bank Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Minahasa menggelar High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Aula Kantor Bupati Minahasa, Rabu (16/7/2025).

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Bupati Minahasa Robby Dondokambey dengan menghadirkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara Joko Supratikto, Deputi Kepala BI Sulut Renold Asri, serta Kepala Perum Bulog Sulutgo Erwin Tora.

Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan penandatanganan kerja sama antar daerah (KAD) business to business (B2B) antara Kabupaten Minahasa dan Bolaang Mongondow, fasilitasi distribusi pangan (FDP) komoditas beras, dan penyerahan bantuan pangan pemerintah.

Dalam sambutannya, Bupati Robby Dondokambey menyatakan bahwa inflasi bukan lagi sekadar persoalan sektoral, tetapi menyangkut daya beli, kemiskinan, dan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, kerja TPID tidak boleh sebatas menjaga stabilitas harga, tetapi harus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi melalui sinergi kebijakan fiskal, distribusi, dan investasi yang berkelanjutan.

“Kami di Minahasa telah melaksanakan empat dari enam upaya konkret dalam pengendalian inflasi sesuai arahan Kemendagri, yakni operasi pasar, sidak pasar, kerja sama antar daerah, serta gerakan menanam bersama masyarakat. Dua lainnya, pemberian subsidi transportasi dari APBD dan pemanfaatan belanja tidak terduga, segera kami susul,” jelasnya.

Bupati juga menyoroti kondisi terkini indeks perkembangan harga di Minahasa yang pada minggu kedua Juli 2025 tercatat sebesar 0,58%, dengan penyumbang utama kenaikan harga berasal dari cabai rawit, beras, dan bawang merah.

Sementara itu, Kepala BI Sulut Joko Supratikto menjelaskan bahwa TPID berfungsi sebagai ruang komunikasi lintas pihak dalam membahas dinamika harga dan stok komoditas. “Kerja sama antar daerah yang dilakukan ini sangat penting untuk menciptakan sistem distribusi yang efisien dan saling menguntungkan,” ujar Joko.

Joko juga mengungkapkan bahwa inflasi Sulut per Juni 2025 mencapai 1,71% (yoy), 1,85% (ytd), dan 0,64% (mtm), dengan lima komoditas penyumbang inflasi terbesar yakni beras (0,31%), cabai rawit (0,26%), bawang merah (0,19%), angkutan udara (0,12%), dan lemon (0,03%). Adapun deflasi ditopang oleh daging babi, ikan malalugis, cabai merah, bawang putih, dan ikan kembung.

“Minahasa masih menghadapi defisit beras, sementara menjadi sentra hortikultura. Optimalisasi KAD sangat penting — baik untuk mendatangkan komoditas dari wilayah surplus, maupun menyalurkan kelebihan produksi ke daerah lain,” ujarnya.

Forum HLM TPID ini tak hanya menjadi ajang koordinasi teknis, tetapi juga mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat ketahanan ekonomi lokal. Dengan sinergi lintas sektor dan dukungan Bank Indonesia, Minahasa diharapkan mampu menjadi model pengendalian inflasi yang inklusif dan berkelanjutan di Sulawesi Utara.

 

(*/in)

 

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Kata Brita di saluran WHATSAPP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *