BI Soroti Konsumsi Pangan Lokal Sulut, Skor PPH Baru 91,6

Ekonomi, Ekonomi2 Dilihat

Katabrita – Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara mendorong optimalisasi pangan lokal sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung pengendalian inflasi daerah.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan BI Sulawesi Utara, Joko Supratikto, dalam Lomba Cipta Menu Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) di Graha Gubernuran, Selasa (22/9).

Joko mengungkapkan, berdasarkan data Pola Pangan Harapan (PPH) Sulawesi Utara 2025, skor konsumsi pangan masyarakat Sulut baru mencapai 91,6 dari 100.

Menurutnya, salah satu kesenjangan terbesar terdapat pada konsumsi kelompok pangan umbi-umbian. Padahal, Sulawesi Utara memiliki beragam potensi pangan lokal yang dapat dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif.

“Potensi pangan lokal kita seperti umbi-umbian, terutama umbi-umbian dan juga yang lainnya, bisa sagu, bisa jagung ataupun hasil laut, ini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai penyeimbang dari konsumsi beras yang selama ini terlalu dominan,” ujar Joko.

Ia mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya diversifikasi pangan, terutama di tingkat rumah tangga.

Bagi BI, diversifikasi pangan bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan ketahanan pasokan dan stabilitas harga.

Joko menjelaskan, ketika masyarakat terbiasa mengonsumsi pangan lokal sebagai alternatif, ketergantungan terhadap komoditas tertentu dapat dikurangi.

Kondisi tersebut menjadi penting ketika terjadi lonjakan harga pada komoditas pangan strategis seperti beras maupun cabai.

“Ketika rumah tangga itu terbiasa mengonsumsi pangan lokal sebagai alternatif, misalnya ketika harga beras atau cabai segar mengalami lonjakan, permintaan ini bisa bergeser ke pangan lokal sebagai pengganti yang harganya relatif stabil,” jelasnya.

Selain diversifikasi konsumsi, BI juga mendorong hilirisasi pangan lokal agar bahan pangan segar memiliki daya simpan lebih panjang.

Joko mencontohkan cabai yang dapat diolah menjadi cabai kering atau cabai bubuk. Pengolahan tersebut, kata dia, dapat membantu menjaga ketersediaan stok sekaligus meningkatkan nilai ekonomis komoditas.

“Hilirisasi pangan atau proses pengolahan bahan segar menjadi produk dengan daya simpan yang lebih panjang, ini dapat memperbaiki hubungan antara gejolak musim panen dengan gejolak harga di level rumah tangga,” katanya.

Ia menyebut ikan asap, cabai olahan atau kering, bawang merah yang diolah menjadi bawang goreng hingga beras yang diolah menjadi tepung sebagai contoh bentuk hilirisasi yang dapat dilakukan.

Menurut Joko, pemanfaatan pangan lokal yang diproduksi di daerah sendiri juga berpotensi memperpendek rantai distribusi. Dengan demikian, pasokan diharapkan lebih tahan terhadap gangguan cuaca maupun hambatan transportasi.

“Pangan lokal yang diproduksi dan dikonsumsi di daerah ini juga dapat memperpendek rantai distribusi. Sehingga lebih tahan terhadap gangguan cuaca maupun hambatan transportasi,” ujarnya.

Karena itu, BI mendukung kegiatan B2SA yang dinilai dapat menjadi bagian dari gerakan diversifikasi dan hilirisasi pangan di Sulawesi Utara.

Joko berharap kreativitas yang ditampilkan dalam lomba tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadikan resep dan teknik hilirisasi yang ditampilkan ini sebagai kebiasaan rumah tangga sehari-hari,” pungkasnya.

(*/in)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Kata Brita di saluran WHATSAPP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *