Katabrita – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara mencatat inflasi Sulut pada Agustus 2025 mengalami deflasi sebesar 1,11 persen (mtm). Penurunan harga terutama disebabkan panen raya tomat di Minahasa dan Minahasa Tenggara, serta cabai rawit di Bolaang Mongondow Utara dan Provinsi Gorontalo. Harga daging babi juga turun seiring normalisasi pasokan dari pedagang dan peternak.
Kepala BI Sulut, Joko Supratikto, menjelaskan bahwa meskipun terjadi deflasi, kondisi inflasi bulanan di Sulawesi Utara masih relatif bergejolak. Volatilitas inflasi bulanan Sulut tercatat 0,87 persen, lebih tinggi dibandingkan angka nasional yang sebesar 0,54 persen. “Gejolak harga pangan yang terlalu tinggi akan membebani konsumen, sementara penurunan harga yang terlalu dalam justru merugikan petani dan produsen. Inilah yang harus kita antisipasi bersama,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi perhatian khusus mengingat Kota Bitung meski tidak termasuk kota perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), tetap menjadi barometer penting harga pangan karena pergerakan harganya mengikuti tren Manado. Komoditas yang kerap memicu fluktuasi di Bitung antara lain cabai rawit, cabai merah, bawang merah, dan bawang putih.
Melalui forum High Level Meeting (HLM) TPID Bitung, BI Sulut bersama pemerintah daerah mendorong langkah konkret untuk menjaga kestabilan harga. Sinergi ini diwujudkan dalam strategi operasi pasar, gerakan pangan murah, penguatan distribusi, hingga kerja sama antar daerah untuk mengimbangi daerah surplus dan defisit komoditas.
BI Sulut optimistis dengan penguatan koordinasi antar lembaga, inflasi Sulawesi Utara dapat tetap terkendali sesuai sasaran nasional 2,5 persen ±1. Upaya ini tidak hanya menjaga daya beli masyarakat, tetapi juga memastikan keberlanjutan produktivitas petani serta stabilitas perekonomian daerah.
(*/in)







