Pangan Lokal Jadi Penyangga Inflasi dari Rumah Tangga

Ekonomi, Ekonomi2 Dilihat

Katabrita – Diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal dinilai dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membantu mengendalikan inflasi di Sulawesi Utara.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara, Joko Supratikto, saat menghadiri Lomba Cipta Menu Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) di Graha Gubernuran, Selasa (22/9).

Menurut Joko, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang kreativitas dalam mengolah makanan, tetapi juga memiliki kaitan dengan upaya pengendalian inflasi pangan.

“Lomba yang kita lakukan pada kesempatan kali ini bukan sekadar karena kriteria penilaiannya saja, tetapi kontribusi nyata terhadap ketahanan pasokan dan juga kestabilan harga di daerah yang kita cintai ini,” ujar Joko.

Ia menjelaskan, perubahan pola konsumsi dapat dimulai dari tingkat rumah tangga dengan memanfaatkan berbagai pangan lokal sebagai alternatif, terutama ketika harga komoditas tertentu mengalami kenaikan.

Joko mencontohkan umbi-umbian, sagu, jagung hingga hasil laut yang menurutnya belum dimanfaatkan secara optimal sebagai penyeimbang konsumsi beras yang masih dominan.

Ketika masyarakat terbiasa mengonsumsi pangan lokal, kata dia, permintaan dapat bergeser pada komoditas alternatif saat harga pangan tertentu mengalami lonjakan.

“Misalnya ketika harga beras atau cabai segar mengalami lonjakan, permintaan ini bisa bergeser ke pangan lokal sebagai pengganti yang harganya relatif stabil,” jelasnya.

Selain diversifikasi, Joko juga mendorong hilirisasi pangan untuk memperkuat ketersediaan pasokan. Bahan pangan segar dapat diolah menjadi produk dengan daya simpan lebih panjang, sehingga tidak hanya membantu menjaga stok, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi.

Ia mencontohkan cabai yang dapat diolah menjadi cabai kering, cabai bubuk maupun sambal. Begitu pula ikan yang dapat diasap dan bawang merah yang dapat diolah menjadi bawang goreng.

“Kalau sudah diawetkan, sudah hilirisasi, sudah kering, itu menjadi lebih panjang masa pakainya, masa konsumsinya. Itu juga dapat menambah nilai ekonomis bagi kita semua,” katanya.

Menurut Joko, pola tersebut menjadi salah satu mekanisme substitusi konsumsi yang dapat membantu meredam tekanan inflasi dari sisi permintaan.

Di sisi lain, pemanfaatan pangan yang diproduksi di daerah sendiri juga dapat memperpendek rantai distribusi. Kondisi tersebut dinilai membuat pasokan lebih tahan terhadap gangguan cuaca maupun hambatan transportasi.

Joko mengatakan, sejumlah komoditas pangan strategis di Sulawesi Utara, termasuk cabai, belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi daerah.

“Ketika kita semua bisa menanam di daerah, di tempat kita masing-masing, tentunya ini akan mengurangi ketergantungan kita terhadap pasokan-pasokan di daerah lain,” ujarnya.

Ia menambahkan, hilirisasi pangan juga dapat membantu mengurangi dampak gejolak musim panen terhadap harga di tingkat rumah tangga.

Karena itu, berbagai kreasi pengolahan pangan strategis yang ditampilkan dalam Lomba Cipta Menu B2SA diharapkan tidak berhenti sebagai karya dalam perlombaan.

Joko mengajak masyarakat menjadikan pemanfaatan pangan lokal dan pengolahan bahan pangan sebagai kebiasaan di rumah.

“Jangan berhenti di panggung lomba ini, tapi mari jadikan resep dan teknik hilirisasi yang ditampilkan ini sebagai kebiasaan rumah tangga sehari-hari,” katanya.

Ia berharap gerakan tersebut dapat berkembang di seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Utara, sehingga ketahanan pangan tidak hanya menjadi kebijakan di tingkat pemerintah, tetapi juga tumbuh dari rumah tangga.

“Dampaknya ini diharapkan dapat menjalar menjadi gerakan bersama di 15 kabupaten dan kota,” pungkasnya.

(*/in)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Kata Brita di saluran WHATSAPP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *