Katabrita – Harga pangan di Sulawesi Utara tercatat sebagai yang tertinggi dibandingkan provinsi lain di Pulau Sulawesi. Berdasarkan data Panel Harga Bapanas per 25 Juli 2025, harga beras premium di Sulut mencapai Rp17.257 per kilogram, tertinggi di kawasan, sementara harga terendah berada di Sulawesi Selatan hanya Rp15.640 per kilogram.
Selain beras, harga komoditas lain juga lebih mahal di Sulut. Bawang merah dijual Rp53.644 per kilogram, sedangkan di Sulsel Rp42.073. Cabai rawit merah mencapai Rp68.814 per kilogram, lebih tinggi dari Gorontalo Rp59.250 atau Sulsel Rp47.905. Harga daging sapi murni di Sulut Rp132.143 per kilogram, sementara di Sulsel Rp125.600.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto menyebut kondisi ini sebagai tantangan besar dalam menjaga inflasi tetap terkendali. “Harga pangan di Sulut relatif lebih tinggi karena keterbatasan pasokan lokal dan biaya logistik yang mahal. Geografis kepulauan turut membuat ongkos distribusi lebih berat,” ujarnya dalam pertemuan wartawan di Manado.
Selain itu, minyak goreng kemasan di Sulut tercatat Rp21.317 per liter, lebih mahal dibandingkan Gorontalo Rp21.080. Sementara untuk minyak goreng curah, harga di Sulut Rp18.605 per liter, juga berada di posisi tertinggi.
Menurut BI Sulut, solusi untuk menekan kesenjangan harga antarprovinsi adalah dengan memperkuat kerja sama distribusi pangan lintas daerah. “Konektivitas harus diperbaiki. Jika biaya transportasi bisa ditekan, maka disparitas harga bisa berkurang dan masyarakat lebih mudah mendapatkan pangan dengan harga terjangkau,” tambahnya.
Bank Indonesia optimistis langkah sinergi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan sektor logistik akan membantu meredam inflasi pangan, terutama menjelang momentum konsumsi tinggi seperti Hari Pengucapan Syukur di Sulut.
(“/in)







